Kamis, 06 Juni 2013

Menulis : Bicara Tanpa Suara



Finally saya menulis lagi!!! Kali ini saya akan menulis tentang menulis.


Menulis berasal dari kata tulis yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti huruf (angka dsb) yang dibuat (digurat, dsb) dengan pena (pensil, cat, dsb). Tulis sendiri tidak didefinisikan secara tunggal karena kata “tulis” tidak termasuk kata benda. Maka, KBBI memberikan sebuah penjelasan untuk pengertian kata “tulis” ini dengan memberikan tambahan imbuhan atau awalan untuk memperjelas kata “tulis” tersebut. Dalam kata menulis, imbuhan yang digunakan adalah me- yang artinya melakukan perbuatan. Sehingga arti kata menulis menurut KBBI adalah membuat huruf dengan pena, pensil, dan lain sebagainya. Kalau menurut saya sendiri menulis itu artinya sederhana, bicara tanpa suara.


Menurut KBBI, bicara artinya adalah … Ah, sudahlah terlalu panjang kalau diteruskan. Mari kembali ke-arti menulis menurut saya.


Menulis adalah bicara tanpa suara, kenapa begitu? Segala sesuatu yang manusia lakukan itu dihasilkan dan diatur di otak untuk kemudian ditunjukkan melalui berbagai cara, contohnya bicara dan menulis. Bicara dan menulis merupakan cara manusia menunjukkan atau mengekspresikan kalimat yang tersusun dari kata-kata, dimana setiap kata tersebut disusun otak dengan merangkai huruf demi huruf. Keduanya juga memerlukan media untuk dapat direspon oleh orang lain. Bedanya, bicara ditunjukkan melalui gerakan bibir dan memerlukan media udara untuk dapat direspon dengan cara didengar, sementara menulis ditunjukkan melalui tangan dan memerlukan media alat tulis untuk dapat direspon dengan cara dibaca.


Saya bukan tipe orang yang dapat dan pandai menyampaikan sesuatu dengan bicara, karena itulah saya senang menulis. Saya senang menulis sejak SMA, dan saya rasa ada dua orang yang sukses membuat saya senang menulis. Pertama, guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA, Ibu Giatika,  dan yang kedua sahabat saya, Annisa Mulyandini.


Ibu Giatika mewajibkan murid-muridnya untuk menulis apapun yang dipikiran mereka sebelum mulai belajar Bahasa Indonesia di sebuah buku. Acara menulis sebelum belajar tersebut disebut “sarapan” dan buku tempat kami menulis disebut “buku sarapan”. Setiap akhir tahun ajaran, buku sarapan tersebut harus dirapikan dan dijilid sekreatif mungkin. Kalau menulis saya boleh berbangga hati, tapi kalau soal jilid kreatif saya menyerah. Hehe..


Annisa Mulyandini, sahabat saya di dunia nyata dan sekaligus sahabat pena saya. Kami berdua menulis karena ada beberapa hal yang tidak bisa kami obrolkan secara langsung, rahasia. Tapi setelah dia pindah ke Palembang kami sudah tidak pernah lagi jadi sahabat pena, tapi kami masih tetap bersahabat sampai sekarang.


Banyak hal di kepala saya yang ingin saya sampaikan, tapi karena terkadang saya malas untuk bicara sepertinya mulai sekarang saya akan semakin rajin menulis lagi. Baiklah kalau begitu, sekian untuk kali ini.


Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. 

Kalau ada yang susah dibilang, pasti saya menulis lagi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WAJIB TULIS NAMA!