Finally saya menulis lagi!!! Kali ini
saya akan menulis tentang menulis.
Menulis berasal dari kata tulis yang menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti huruf (angka dsb) yang dibuat
(digurat, dsb) dengan pena (pensil, cat, dsb). Tulis sendiri tidak
didefinisikan secara tunggal karena kata “tulis” tidak termasuk kata benda.
Maka, KBBI memberikan sebuah penjelasan untuk pengertian kata “tulis” ini
dengan memberikan tambahan imbuhan atau awalan untuk memperjelas kata “tulis” tersebut.
Dalam kata menulis, imbuhan yang digunakan adalah me- yang artinya melakukan
perbuatan. Sehingga arti kata menulis menurut KBBI adalah membuat huruf dengan
pena, pensil, dan lain sebagainya. Kalau menurut saya sendiri menulis itu
artinya sederhana, bicara tanpa suara.
Menurut KBBI, bicara artinya adalah …
Ah, sudahlah terlalu panjang kalau diteruskan. Mari kembali ke-arti menulis menurut
saya.
Menulis adalah bicara tanpa suara,
kenapa begitu? Segala sesuatu yang manusia lakukan itu dihasilkan dan diatur di
otak untuk kemudian ditunjukkan melalui berbagai cara, contohnya bicara dan
menulis. Bicara dan menulis merupakan cara manusia menunjukkan atau
mengekspresikan kalimat yang tersusun dari kata-kata, dimana setiap kata tersebut
disusun otak dengan merangkai huruf demi huruf. Keduanya juga memerlukan media
untuk dapat direspon oleh orang lain. Bedanya, bicara ditunjukkan melalui gerakan
bibir dan memerlukan media udara untuk dapat direspon dengan cara didengar,
sementara menulis ditunjukkan melalui tangan dan memerlukan media alat tulis
untuk dapat direspon dengan cara dibaca.
Saya bukan tipe orang yang dapat dan
pandai menyampaikan sesuatu dengan bicara, karena itulah saya senang menulis. Saya
senang menulis sejak SMA, dan saya rasa ada dua orang yang sukses membuat saya
senang menulis. Pertama, guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA, Ibu Giatika, dan yang kedua sahabat saya, Annisa
Mulyandini.
Ibu Giatika mewajibkan murid-muridnya
untuk menulis apapun yang dipikiran mereka sebelum mulai belajar Bahasa
Indonesia di sebuah buku. Acara menulis sebelum belajar tersebut disebut “sarapan”
dan buku tempat kami menulis disebut “buku sarapan”. Setiap akhir tahun ajaran,
buku sarapan tersebut harus dirapikan dan dijilid sekreatif mungkin. Kalau
menulis saya boleh berbangga hati, tapi kalau soal jilid kreatif saya menyerah.
Hehe..
Annisa Mulyandini, sahabat saya di
dunia nyata dan sekaligus sahabat pena saya. Kami berdua menulis karena ada
beberapa hal yang tidak bisa kami obrolkan secara langsung, rahasia. Tapi
setelah dia pindah ke Palembang kami sudah tidak pernah lagi jadi sahabat pena,
tapi kami masih tetap bersahabat sampai sekarang.
Banyak hal di kepala saya yang ingin
saya sampaikan, tapi karena terkadang saya malas untuk bicara sepertinya mulai
sekarang saya akan semakin rajin menulis lagi. Baiklah kalau begitu, sekian
untuk kali ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
WAJIB TULIS NAMA!