Minggu, 08 Agustus 2010

IPB Go Field 2010 - part 3

...bersambung dari part 2...

Yak mobil kembali melaju, kali ini tujuannya adalah kantor Kecamatan Losari. Di dalam mobil itu cuma ada tiga orang, saya, Mega dan Pak Sus (penanggungjawab program pengolahan ikan). Sekian puluh menit kemudian, mobil belok kanan dan sampailah kami di kantor Kecamatan Losari. Pak Camatnya waktu itu gak ada, yang ada Sekretaris Camat (Sekcam) kalau gak salah. Ditanya ini itu, ini itu, banyak sekali *OST Doraemon :p* termasuk surat pengantar dari Bappeda. Obrolan terus berlanjut antar Pak Sus dan pihak kecamatan, sementara saya dan Mega duduk manis mendengarkan. Saya sih sedikit-sedikit ngerti karena bahasa Brebes itu sedikit-sedikit ada yang saya tau, kalau Mega dunno ya, kan dia bukan orang  Jawa *kayaknya sih dia gak ngerti*.
Pak Sus bilang gini (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca tidak bingung), "Suratnya sudah dikirim minggu lalu."
Sekcamnya jawab, "Tapi Kami belum terima surat pemberitahuannya, Pak."
Pak Sus jawab lagi, "Tapi Kami sudah kirim minggu lalu, rencananya adik-adik ini akan ditempatkan di desa Prapag Lor untuk belajar tentang produksi terasi."
Ibu Sekcamnya masih keukeuh bilang, "Iya, tapi Kami belum terima surat pemberitahuannya. Jadi Kami tidak ada persiapan sama sekali dan pihak desa tujuan juga belum kami infokan mengenai kedatangan adik-adik dari IPB ini."
Pak Sus lalu bilang begini, "Berarti ada keterlambatan info, begini jadinya kalau surat pemberitahuan dikirim via pos. Seharusnya pakai kurir saja biar lebih cepat sampainya."
Lalu mereka pun tertawa, sementara saya dan Mega masih saja duduk manis dan terdiam *krik, krik, krik... tersenyum karena terpaksa*
Obrolan antara Pak Sus dan Ibu Sekcam itu terus berlanjut. Ternyata lurah di desa tempat kami tinggal itu mau nikah, jadi dia PP Losari-Cirebon tiap hari. Ha?? Terus kami tinggal dimana?? Kan harusnya kami tinggal di rumah pak lurah yang katanya megah kayak rumah artis itu. Pak Sus sama Ibu Sekcamnya masih aja ngobrol, kali ini malah cenderung ngegosip. Soal apa? Rahasia, pokoknya untuk bapak/ibu pegawai, tolong jangan ngegosipin teman sendiri di kantor sendiri biarpun sama orang dari instansi berbeda karena itu sungguh terlalu *Rhoma Irama mode: ON.*
Yak, akhirnya selesai juga ngobrol-ngobrolnya, penyuluh lapang yang ditunggu juga udah datang, mobil pun melaju lagi. Di jalan yang saya sama Mega cari bukan warung makan, tapi warnet. Kenapa warnet? Karena tanggal 3-6 Agustus nanti kami harus isi KRS, dan untuk itulah kami butuh warnet. Alhamdulillah ketemu juga warnetnya, gak jauh dari kantor kecamatan. Ok, mobil pun terus melaju. Sesekali Pak Sus ngajak ngobrol soal apapun, sementara Mega tidur, sepertinya dia capek. Pak Sus kasih info bahwa sarana transportasi di sini terbatas, angkot jarang, yang banyak itu justru delman. Jalanan di sini rusak parah, lubang dan genangan air dimana-mana, Pak Sus bilang ini efek pasang air laut yang tingginya bisa sampai setengah ban motor. Finally sampai juga di rumah Lurah Prapag Kidul. Kok Prapag Kidul? Bukannya Prapag Lor? Ini adalah efek dari rencana pernikahan Pak Lurah Prapag Lor, makanya kami dialihin di sini. Rumahnya mentereng banget! Beda sama rumah-rumah di sekitarnya yang terkesan sederhana dan biasa saja. Setelah ngobrol panjang lebar kami akhirnya boleh tinggal di sini. Eh, ternyata lurah Prapag Lor juga ada di sini, masih muda lagi. Saya dan Mega dikasih tau dimana kamar kami sama bu lurahnya. *masih muda lho, bidan pula.* Ok, barang-barang udah masuk semua dan kami pun disuruh istirahat. Saya sih sempatin diri dulu untuk telepon sama SMS teman-teman saya yang lain, sekedar kasih kabar sih. Tapi kok sinyalnya naik turun ya? Sering blank pula. Sambil tidur-tiduran saya ngobrol sama Mega, mungkin saking capeknya kami sampai ketiduran, gak mandi, gak makan malam dan baru sholat Isya besok paginya.

Tanggal 6 Juli 2010...
Pas buka hp ada beberapa sms dari teman-teman dan semua endingnya sama "Salam ya buat anaknya Pak Kades," Emang sih Pak Lurahnya punya anak laki-laki, semata wayang pula, namanya Kiki . Tapi masih kelas 5 SD, masa mau diembat juga? Singkat cerita kami sarapan bareng bu lurahnya *pak lurahnya belum bangun.* Setelah tanya ini tanya itu dan selesai makan, saya sama Mega pergi ke pasar untuk beli sesuatu. Nunggu di warung samping rumah *warung punya pak lurah juga*, tapi angkot tak kunjung tiba. Hampir setengah jam nunggu akhirnya angkotnya datang juga, beda sama di Bogor dimana angkot yang nungguin kita. Tadinya mau ke pasar yang gak terlalu jauh, tapi akhirnya ke pasar yang dekat kecamatan aja sekalian.
Setelah Mega dapat kebutuhannya (yang sangat penting dan darurat) dan saya dapat nomor sementara untuk dipakai selama di sini, kami jalan-jalan lagi. Dan, di sini ada mall lho saudara-saudara sekalian. Namanya Plaza Dedy Jaya, bukan mall besar sih, mirip Al-Amin tengah lah kalau di kampus saya. *buat anak IPB Darmaga pasti tau deh Al-Amin tengah (Plaza Jamahiriyah) kayak apa.* Biarpun gak besar tapi isinya lengkap banget (mulai dari sembako, ATK, sepatu, sampai koper), model bajunya juga lumayan bagus dan update, yang terpenting harganya SANGAT TERJANGKAU OLEH MAHASISWA!! Niat cuma liat-liat, eh pulang-pulang malah bawa belanjaan banyak *gini nih cewek kalau lihat barang bagus dengan harga murah*. Gawat deh di sini lama-lama kalau gak bisa nahan diri, bawaannya pengen belanja sepuasnya alias ngehambur-hamburin uang. Akhirnya kami pulang, tadinya pengen naik angkot tapi saya pengen naik delman karena jarang banget saya naik delman *dasar anak kota norak!* Untuk sampai di tempat delman, harus naik becak dulu sebentar. Ok, sampailah di pangkalan delman. Kirain tuh ya sistemnya sama kayak kita naik becak, jadi satu delman untuk kita doang, eh ternyata datu delman rame-rame. Waktu itu bareng sama ibu-ibu yang pulang dari pasar, plus anak-anak mereka beserta mainannya. Eh, ketemu lagi sama ibu-ibu yang sempat kami tanyain di angkot pas mau ke pasar tadi. Entah saya yang gendut atau memang delmannya yang sempit, paha kanan saya sampai kejepit. Satu per satu penumpang di delman itu turun dan delman itu jadi lega. Ongkos delmannya tiga ribu aja, padahal jauh banget lho jarak tempuhnya. Yang saya perhatikan selama di jalan, Mega tampak was-was mukanya. Setelah ditanya-tanya, rupanya dia takut kakinya kena kotoran kuda. Memang sih kondisi saat itu bikin kaki kami gak bisa ada di atas delman dua-duanya. Jadi otomatis satu kaki kami harus tergantung di luar delman. Alhamdulillah kami sampai rumah dengan selamat tanpa kena kotoran kuda sedikitpun.
Sampai di rumah ternyata pak lurahnya udah bangun dan beliau ajak kami ngobrol sebentar. Rupanya sedang tidak ada produksi terasi karena bahan bakunya sedang tidak ada. Menurut beliau, angin laut sedang tidak bersahabat jadi udang rebon (bahan baku utama pembuat terasi) sedang sulit didapat oleh nelayan atau istilahnya sedang paceklik udang rebon. Jadilah kami beralih ke produksi rajungan atas saran beliau. Setelah  ngobrol lagi sama bawahan pak lurah yang dikasih tugas untuk kasih penjelasan soal keadaan di sini, kami mandi, bersih-bersih, *intinya mah siap-siap* berangkat deh ke tempat produksi rajungan.
Di tempat produksi rajungan, yang ternyata adalah usaha keluarga milik keluarganya pak lurah, kami lihat-lihat, tanya-tanya  sama pekerja dan penanggungjawabnya, juga tak lupa (lagi-lagi) foto-foto sama rajungannya.

Mega with rajungan

me with rajungan
Pertama kali masuk ke tempat pengolahannya udah enek duluan, karena jujur saya gak terlalu tahan bau daging atau seafood mentah, gak tau deh kenapa dari kecil udah begitu soalnya. Tapi Alhamdulillah di sini hidung saya cepet banget adaptasinya, gak sampai sepuluh menit saya udah bisa 'menikmati' aroma rajungan di luar itu. Emang sih rajungannya udah di rebus dulu, tapi tetep aja gak suka baunya. Saya suka seafood setelah seafood itu benar-benar matang dan siap untuk dilahap. *gak mau kotor banget sih gue!!*
Pas tanya-tanya di tempat produksi ternyata gak ada satu bagianpun dari rajungan yang terbuang. Rajungan cuma terdiri dari cangkang dan daging. Dagingnya diambil dari bagian dalam cangkangnya terus di distribusiin lagi ke pihak berikutnya. Alurnya kira-kira begini

alur unit pengolahan rajungan
Nelayan melaut dan dapat rajungan-rajungan itu dalam keadaan hidup, nah karena rajungan itu gampang bau dalam keadaan yang tidak bernyawa alias mati, jadi sama nelayan setelah ditangkap rajungan itu langsung di rebus. Setelah kembali ke darat, rajungan itu langsung disetor ke pengumpul, tempat yang saya datangi ini adalah pengumpulnya. Waktu saya datang di luar ada drum-drum besar yang berisi rajungan dan es, es ini yang membuat rajungan lebih awet. Di sini rajungan-rajungan itu dieksekusi bukan bermaksud untuk lebay, tapi memang begitu. Di sini daging-daging rajungan itu dikeluarkan dari cangkangnya dengan cara memukul cangkang dengan benda keras yang terbuat dari besi, yang saya lihat bentuknya seperti gagang sendok. Cukup  dua kali ketuk tuk..tuk.. maka daging sudah dapat dikeluarkan dari cangkangnya yang keras. Daging-daging rajungan ini dikelompokkan berdasarkan bagian tubuhnya, yang paling mahal kalau tidah salah bagian capitnya. Butuh orang yang berpengalaman untuk mengeluarkan daging rajungan ini, sebab jika cacat maka harganya bisa sangat jatuh. Dari ratusan ribu bisa jadi puluhan ribu saja harganya, Ada juga bagian yang diambil dari cangkang bagian bawah si rajungan, bagian tubuh ini nantinya disusun sampai bentuknya seperti bunga *makanya disebut bagian flower*. Proses pengolahan ini sebenarnya diikat dengan standar yang sangat ketat, pekerjanya harus steril dan lingkungan kerjanya juga harus rapih. Berikut beberapa standar yang harus diterapkan di usaha pengolahan rajungan menurut pihak pengolah yang waktu itu kami tanya-tanya:
  1. Pekerja harus steril, gak boleh pakai lotion gak boleh pakai parfum.
  2. Harus pakai penutup kepala (shower cap), sarung tangan dan sepatu boot.
  3. Sebelum masuk ke dalam ruangan harus melewati chlorine dulu sebagai disinfektan.
  4. Wajib cuci tangan setelah melakukan apapun.
  5. Kehigienisan adalah hal yang utama. 
  6. Ventilasi harus diperhatikan.
Tapi apa yang saya lihat? Kenyataannya tidak seperti itu. Memang sih poin keenam diperhatikan,  ada ventilasi berupa jendela kecil dan air blower, AC juga ada. Tapi saya meragukan poin pertama sampai kelima, kecuali poin ketiga. Karena di depan pintu masuk ada lubang berisi genangan air yang ternyata adalah chlorine. *di lubang inilah saya gak sengaja bikin kaki kiri saya basah*  Coba lihat beberapa foto di bawah ini.
mas-mas di foto ini memang pakai boot tapi ibu-ibu di sini?
mereka memang pakai alas kaki, tapi bukan boot!
apa ada yang bisa jamin mereka benar-benar steril??
Kayaknya bapak yang sedang kami tanya-tanya tau kalau saya sedang agak heran dengan apa yang saya lihat. Karena memang bertolak belakang dengan apa yang saya dengar dari beliau. Lalu bapak itu pun bilang begini, "Biasanya seperti itu kalau mau ada pengecekan dari mitra. Sekeliling lokasi, semuanya harus bersih." WHAT???!!! Ya ampun, berarti kalau gak ada pengecekan patut dipertanyakan kehigienisannya. Belum lagi kejadian mencengangkan yang saya lihat. Apakah itu?? Seorang pekerja kedapatan mengambil kembali daging rajungan yang jatuh dan memasukkannya ke dalam wadah. Pelakunya adalah salah satu orang di dalam foto di bawah ini. Kalau saya yang jadi atasan dan tau hal ini mungkin udah saya suruh dia keluar , karena buat saya gak ada toleransi untuk masalah kehigienisan. Efeknya banyak ya, bisa menurunkan harga dan bikin customer gak percaya lagi sama kita. Kalau customer mundur dan gak lagi kerjasama sama kita karena masalah kehigienisan yang terlanggar kan dia juga yang rugi. Masih mending honor dipotong, nah kalau perusahaan bangkrut dan semua karyawan di PHK siapa yang rugi hayo? Dia juga kan??!!

ayo tebak yang mana pelakunya??
Kembali lagi ke alur unit pengolahan rajungan, dari pengumpul daging-daging rajungan yang sudah dimasukkan dalam kemasan kemudian dimasukkan lagi ke dalam drum yang sudah diberi es. Dari sini rajungan-rajungan ini dikirim ke mini plan yang berlokasi di rumah lurah Prapag Kidul atau rumah yang sedang kami tempati. Di mini plan ini daging-daging rajungan ini hanya ditimbang, kemudian oleh plan atau perusahaan besar diangkut ke tempat pengolahan selanjutnya. Oleh plan daging rajungan diolah menjadi sarden dan siap dipasarkan ke luar negeri. Kok ke luar negeri? Karena harganya yang sangat mahal (bisa sampai tiga ratus ribu rupiah) makanya diekspor aja deh *orang Indonesia dinilai gak mampu beli*
Selesai dari pengolahan rajungan kami diantar ke pengolahan kulit rajungan. Baunya gak kalah dahsyat sama tempat sebelumnya, malah lebih bau di sini. Gimana gak bau, orang bahan-bahan di sini nggak banget! Di sini ada kulit rajungan, udang busuk dan ikan busuk. Tiga bahan tadi dijemur sampai kering banget, terus digiling bareng-bareng. Hasil gilingannya juga bervariasi, tergantung permintaan dari pemesan. Hasil gilingan ini kemudian dijadiin pakan untuk ternak, umumnya sih untuk bebek. Saya dan Mega gak mau lama-lama di sini, gak tahan sama baunya dan cuaca panas di luar sana.
Akhirnya sampai rumah juga, langsung ngurus jemuran dan beres-beres kamar yang terbengkalai. Setelah beres semuanya kami istirahat, Mega tidur nyenyak sementara saya susah tidur. Yang saya pikirkan saat itu adalah saya tidak bisa kerja di lingkungan seperti itu. Bukan masalah baunya, tapi karena bagi saya pekerjaan itu sangat monoton! Sesi curhatpun dimulai lewat SMS, saya bercerita tentang apa yang saya rasa ke beberapa teman saya yang ikut Go Field juga. Akhirnya kesimpulan saya dapat, teman-teman saya menyarankan saya untuk cerita tentang kondisi lapangan kepada Bu Eny, staff LPPM yang selama ini mengurus segala kepentingan mengenai Go Field.  Saya akhirnya memberanikan diri untuk curhat dengan Bu Eny, tentu saja lewat SMS. Bu Eny menyarankan saya untuk lapor ke penanggungjawab dari dinas dan jika memungkinkan kami disarankan untuk pindah. Saya akhirnya curhat dengan Pak Sus, lagi-lagi lewat SMS. Dan oleh beliau ditanggapi besok paginya. Sudah malam, saatnya tidur..

Tanggal 7 Juli 2010..
Pak Sus membalas SMS saya dan beliau bilang laporan saya sudah disampaikan ke Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Gak lama kemudian datang Pak Encang penyuluh lapang di daerah Losari. Beliau datang untuk klarifikasi mengenai laporan saya dan saya juga memanfaatkan hal itu untuk menyampaikan keinginan pindah saya. Dari kata-kata beliau memang ada kekecewaan atas keputusan saya. Beberapa kali beliau mengeluarkan argumen supaya saya memikirkan keputusan saya, Mega juga demikian. Tapi saya tetap keukeuh pada keputusan saya dan tetap meminta untuk tetap dipindahkan. Saat ditanya ke Mega, untungnya dia ikut apapun keputusan saya. *sebenarnya juga gak enak sama Mega, tapi jujur saya memang tidak bisa bekerja maksimal jika saya tidak nyaman*
Sekitar jam 10 pagi HP saya bunyi, ada panggilan masuk dari Pak Sus. Waktu itu beliau bilang agak saya dan Mega segera siap-siap karena beliau segera datang untuk menjemput kami dan memindahkan kami ke  Kecamatan Brebes, sementara dua kawan laki-laki saya yang lebih dulu ditempatkan di sana (Burhan dan Zepanya) dipindah ke Malahayu. Tidak sampai satu jam kami sudah siap, semua barang sudah masuk koper dan kami siap berangkat. Tapi sampai jam 12 yang ditunggu tidak juga muncul sampai saya dan Mega akhirnya malah ketiduran di kamar. Sekitar jam dua ada yang mengetuk kamar kami dan saat saya keluar kamar ada Pak Sus dan dua ibu dengan seragam yang sama dengan Pak Sus sudah menunggu di ruang tamu. Setelah basa-basi beberapa menit kami pun berpamitan dan mengangkut barang-barang kami ke mobil dinas yang sudah menunggu di depan rumah Pak Lurah. Mobil yang tanpa AC itu kemudian melaju meninggalkan Kecamatan Losari menuju Kecamatan Brebes. Di jalan saya sama sekali tidak bisa tidur walau mata mengantuk. Udara panas di luar semakin panas dirasa karena seisi mobil yang bergosip ria. Selain itu HP yang sering bergetar selalu bikin saya bangun setiap saya baru saja mulai tidur. Kalau kemarin saya yang curhat ke teman-teman saya, kali ini saya yang jadi tempat curhat teman-teman saya. Ditambah satu SMS dari Tya yang menanyakan apakah kami jadi pindah ke Brebes atau tidak. Sengaja pesan dari Tya itu tidak saya balas.
Kami pun sampai di Kelurahan Pasarbatang. Sampai dan turun di depan Gang Tanjan Jaya dan menjadi perhatian orang sekitar. *mungkin karena saya dan Mega bawa koper kali ya?*  Kami sampai di rumah yang di depannya terdapat halaman bulutangkis, dan di teras rumah itu dua teman saya, Tya dan Meri sudah duduk dengan manis dan tersenyum manis memandang kami, kemudian mereka berdiri dan membantu membawakan barang kami sambil diselingi acara bercanda tentunya.
Setelah acara serah terima *macam jabatan aja* antara pihak DKP dan Pak Syarif selaku pemilik rumah selesai, saya dan Mega masuk ke kamar kami. Setelah itu kami berempat mulai bercanda bersama. Kalau saya boleh jujur, saat itu saya benar-benar merasa bersyukur karena bisa satu rumah dengan teman-teman saya yang sudah lebih dulu ada di sini. Awalnya saya pikir saya akan ditempatkan di Kelurahan Limbangan Wetan menggantikan dua teman laki-laki saya yang pindah ke Malahayu itu. Ternyata saya dipindahkan ke tempat ini, tempat yang pada akhirnya membuat saya merasa ada di tengah keluarga saya sendiri. Alhamdulillah , saya sangat sangat senang saat itu .
Baru saja sampai beberapa saat, kami berempat diajak pemilik rumah untuk jalan-jalan santai ke tempat pembiakan ikan yang tidak terlalu jauh dari rumah. *ini yang saya suka, kegiatan yang tidak monoton* Di tempat pembiakan ikan ini kami bebas bertanya tentang ikan. Dan saya mulai produktif (bekerja dan mencari objek foto), karena suasananya memang membuat saya nyaman.

(ki-ka): Meri yang serius memperhatikan, Tya yang sadar kamera..
Menjelang Maghrib kami pulang ke rumah, dan setelah Isya lanjut foto-foto lagi ...

besar (ki-ka): Tya, Mega, Meri, Saya. kecil (ki-ka): Vina, Habib, Izza
 Well,, itulah akhir dari IPB Go Field 2010 - part 3. Insyaallah masih akan ada lanjutannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WAJIB TULIS NAMA!