Jumat, 24 Desember 2010

It Isn't The End of Our Friendship

Akhirnya hari ini datang juga...

Kamis, 23 Desember 2010, resmi menjadi akhir dari kuliah formal selama 2,5 tahun bersama IE 44. Banyak hal yang telah kita lalui bersama, dan sekarang semua berakhir. Memang masih akan ada kuliah pengganti, ujian akhir semester dan perpisahan kelas, tapi tetap saja itu tidak dapat mengurangi rasa kehilangan saya akan IE 44. Seperti puzzle yang setiap bagiannya saling melengkapi dan tak tergantikan, begitulah hati saya. Setiap kenangan kehidupan tersusun rapi di dalamnya, termasuk kenangan bersama IE 44 yang tak akan tergantikan oleh apapun.

Kalau diingat-ingat, saya seorang diri dari B14 yang berada di IE 44. Dari seorang diri, kemudian tidak lagi. Satu per satu nama mulai saya tau, satu per satu rupa mulai saya hapal, dan satu per satu watak mulai saya kenal. Kita sama seperti manusia lainnya, berbeda satu sama lain, tak ada yang serupa, kalaupun ada yang sama mungkin hanya pakaian yang kita kenakan. Tapi sekarang saya tidak sendiri lagi , saya punya kalian, mahasiswa dan mahasiswi Departemen Ilmu Ekonomi IPB angkatan 44.

Mata kuliah terakhir kita semester ini (di luar elektif) adalah ekonomi politik yang selesai sekitar jam 8.30. Setelah kuliah ada pengisian kuesioner untuk award yang dibacakan saat perpisahan nanti. Kategorinya aneh-aneh dan jawabannya pun sama anehnya, hehehe. Tapi gak apa-apa, yang penting jujur dari dalam hati karena award itu bentuk apresiasi terhadap sesama. Waktu masih di kelas ini ada ucapan terakhir dari Solihin yang menjabat sebagai Komti IE 44 sejak semester 3 sampai semester 7.

Our Komti - Solihin

*ceritanya dipercepat*

Beres isi kuesioner kita semua kumpul di Basmir untuk sesi foto-foto lagi (sekedar mengingatkan hari ini hari ketiga kita untuk buat foto kelas. hari pertama selasa temanya black and white, hari kedua temanya kotak-kotak, dan hari terakhir ini tanpa tema yang penting sopan). Selesai foto-foto ada sesi maaf-maafan, dan inilah sesi yang teramat sangat menguras air mata.

Satu persatu teman kita salami dan satu persatu teman menyalami kita. Awalnya mungkin hanya sekedar berjabat tangan dan berkata "maafin ya" atau '"makasi ya untuk bantuannya selama ini", tapi lama-lama suasana jadi haru saat satu per satu putri IE 44 , termasuk saya, mulai berkaca-kaca dan akhirnya menangis juga. Semoga marah, dendam serta perselisihan hilang seiring dengan keluarnya air mata haru tersebut. *aamiin..

Sebentar menangis, mencoba menahan, dan akhirnya menangis lagi. Sampai akhirnya saya meniru  teman di sebelah kiri saya (bc: Ida) untuk menyugestikan diri agar tidak menangis. Hasilnya? Hanya bertahan sebentar dan kami pun kembali menangis. Bahkan air mata yang keluar lebih banyak dibanding sebelumnya.

Air mata saya mulai keluar saat saya bersalaman dengan Ida, semakin banyak saat berjabat tangan dengan Risya, Wati, Destia, Elvha, Ranty, Rani, Ka Ande dst. Tapi keluar dengan lebay-nya saat berjabat tangan, cipika-cipiki dan minta maaf sama Meri. Tapi itu belum seberapa, sebab saat saya bersalaman tangan dengan Meri untuk kedua kalinya, air mata itu benar-benar banjiiiiirrr... Setelah sesi tangis-tangisan dirasa cukup, sesi foto bersama dilanjutkan kembali..

Well, terima kasih IE 44 untuk banyak pelajaran berharga yang kalian berikan padaku. Pelajaran yang tidak akan di dapatkan dari dosen mana pun, pelajaran yang akan berguna dalam menjalani hidup. Salah satu pelajarannya berupa siklus, saat seorang bertemu maka ia dihadapkan pula pada perpisahan. Dan saat berpisah itu tiba kita harus rela karena perpisahan bukan akhir dari segalanya.

IE 44 I Love You, All...

Kita memang tidak belajar bersama lagi dalam satu kelas, tapi ingat kita tetap IE 44. Kita tetap saudara, dan kita tetap keluarga luar biasa.

Sekali lagi, terima kasih IE 44 ku..



Risa Pragari >> : Hari yg penuh arti..terimakasih @ buat semuanya :)

Reni Tilova >> @r: Kuliah terakhir..td nangis bareng tmn2 @ ..hiks ='( pasti bakalan kangen bgt..sukses semua tmn2 tersayang..

Selasa, 21 Desember 2010

Perlambatlah..

Ya Allah, ini sudah selasa malam, besok rabu pagi.
Perlambat waktu ini ya Allah, agar semakin lama sisa waktu kami untuk bersama.

Senin, 20 Desember 2010

Apa-Apa Bagiku

Aku mungkin bukan apa-apa untuk kalian,
Apa yang aku katakan belum tentu kalian dengarkan.
Berbeda dengan ia yang menjadi apa-apa untuk kalian,
Apa yang ia katakan pasti kalian dengarkan dengan seksama, tak satu katapun terlewatkan.
Buatku tidak masalah, karena aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kalian.

Ini telingaku yang akan selalu siap mendengarkan saat kalian ingin berkesah.
Ini mulutku yang akan selalu siap berdiskusi dengan otak dan hatiku saat kalian butuh masukan.
Ini tanganku yang akan selalu siap terulur saat kalian membutuhkan bantuan.
Dan ini bahuku yang akan selalu siap jika kalian ingin berbagi beban.

Sering rasanya kita berselisih,
Saat aku berkata A, kalian justru menginginkan B, demikian sebaliknya.
Dunia kita memang berbeda, kawan.
Tapi aku ingin kita dapat menjadi teman yang baik untuk satu sama lain.

Aku hanya ingin kita dapat berbagi, baik sedih maupun tawa.
Aku hanya ingin kita berteman dan bersahabat selamanya.
Agar suatu hari kita dapat bersama mengabdi pada negeri ini, seperti apa yang kita cita-citakan.


Kawan, ini adalah akhir dari ungkapku kali ini.
Aku yang mungkin bukan apa-apa bagi kalian,
Tapi kalian adalah apa-apa bagiku.

Sabtu, 18 Desember 2010

I'll Miss You, IE 44

Tinggal beberapa hari lagi untuk bisa sama-sama kalian.
Tinggal beberapa hari lagi untuk bisa bebas mendengar riuh suara kalian saat dosen yang baik hati mengajar dan bersama-sama tegang jika dosen killer yang mengajar.
Tinggal beberapa hari lagi kita sama-sama belajar, bermain, bercanda, berbincang, dan berbagi antar satu sama lain.
Memang nantinya masih akan ada ujian akhir yang membuat kita dapat duduk dan berjuang mengerjakan soal di kelas yang sama, tapi itu tetap saja tidak memperlambat waktu yang tersisa.
Tinggal Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. TINGGAL EMPAT HARI LAGI (asumsi hari libur tidak dihitung).
Setelah ujian pun demikian, kita akan sibuk dengan skripsi masing-masing.

Kita adalah satu dalam nama Ilmu Ekonomi 44 atau singkatnya IE 44,
Bukan sekedar nama, bukan sekedar angkatan, bukan sekedar kelas, bukan pula sekedar jurusan di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Tapi sebuah keluarga luar biasa yang menjadi tempat pembelajaran dalam pencarian jati diri.

Mungkin kali ini saya akan cengeng,
Tapi tak apa, saya tidak malu menangis karena saya memang benar-benar merasa akan sangat kehilangan kalian semua.

Satu dalam keberagaman, itulah kita.
Tapi keberagaman itulah yang membuat kita belajar untuk memahami dan menghargai satu sama lain.
Suatu hari nanti saya pasti rindu berteriak memanggil seorang kawan dengan sebutan 'Huey' lalu menghampiri, mencubit, dan terkadang memukul dia.
Atau ngorol lewat kertas dengan '(calon) Ny.Arfanto' sambil sesekali memperhatikan dosen.
Atau bahkan menggila dengan 'B1' dengan lelucon-lelucon anehnya.
Sampai terkadang saya meminta siraman rohani dari 'Ribut' dan 'Ayam'.
Ah, saya akan sangat merindukan momen-momen itu.
Tidak hanya dengan mereka yang belakangan ini memang dekat dengan saya, tapi dengan semuanya.

Suatu hari nanti saya pasti ingin sekali melihat bagaimana sibuk dan rusuhnya 'Komti IE 44' yang dikenal moody itu,
Suatu hari nanti saya pasti rindu dengan 'seorang teman' yang tawanya mengingatkan kita dengan mantan  Ibu Kadep IE,
Suatu hari nanti saya pasti rindu dengan 'Miss huru hara',
Suatu hari nanti saya pasti rindu dengan cubitan tiba-tiba si 'profesor',
Suatu hari nanti saya pasti rindu dengan semuanya,
Tidak hanya saya, tapi kita pasti akan rindu dengan semuanya suatu hari nanti, trust me...

IE 44, saya senang dan bersyukur bisa jadi bagian dari kalian,
Kelas yang pernah buat dosen sampai marah-marah dan keluar kelas,
Juga kelas yang pernah buat dosen sampai menangis karena terharu di perayaan hari ibu.
Beberapa pihak memang terkadang membanding-bandingkan kualitas kita dengan kakak-kakak tingkat kita,
Tapi siapa sangka Mahasiswa Berprestasi I dan III FEM tahun 2010 justru dari kelas kita.

IE 44,
Kalau boleh saya meminta, saya mau kita punya foto kelas.
Supaya kita punya satu hal yang membantu kita mengingat satu per satu dari kita,
Supaya kita selalu ingat bahwa kita pernah berjuang bersama,
Supaya kita selalu ingat bahwa IE 44 adalah satu keluarga...

Jalan kita masih panjang, kawan.
Skripsi masih menanti untuk diselesaikan dan gelar Sarjana Ekonomi  bersiap untuk kita sandang, tentu setelah kita lulus sidang.
Kita harus menjadi satu keluarga yang kompak,
Kita harus menjadi satu keluarga yang saling mendukung,
Kita harus selalu menjadi satu dalam IE 44.

Kawan, mungkin hanya ini yang bisa saya ungkapkan sekarang.
Waktu kita untuk bersama memang tinggal sedikit,
Telah banyak hal kita lalui bersama.
Bahagia, sedih, gundah, panik, bahkan menggila telah kita lalui bersama sejak 2,5 tahun lalu.
Waktu kita untuk bersama memang akan habis,
Namun saya mohon, jangan pernah akhiri kekeluargaan ini.
IE 44 adalah satu keluarga, selamanya...

IE 44, terima kasih untuk semuanya selama beberapa tahun ini.
Semoga kita semua kelak menjadi orang sukses yang tidak lupa daratan.
Aamiin


IE...
Develop and improve our economy...
Develop and improve our economy...
Develop and improve our economy..


IE... UHUY!!!!




kita saat masih lucu2nya...
kita saat ini...

Kamis, 18 November 2010

lagilagilagu

Kenapa judulnya lagilagilagu? Lagilagilagu adalah satu folder di laptop saya yang isinya khusus untuk lagu. Posting kali ini berhubungan sama lagu, makanya saya putuskan lagilagilagu sebagai judul tulisan ini. Oiya, sebelum saya lupa, sebelum suasananya keburu hilang, saya mau mengucapkan Selamat Idul Adha bagi yang merayakan, semoga kita bisa meneladani kisah Nabi Ibrahim AS beserta keluarga beliau dalam menjalankan segala perintah Allah SWT dan kesabaran beliau dalam menghadapi ujian dari Allah SWT, aamiin..

Ok, mari masuk ke inti tulisan. Mungkin karena suasana hari raya makanya lagu rohani eksis banget di TV. Nah yang berkesan banget itu ada satu lagu, judulnya Dengan Menyebut Nama Allah. pada tau kan? Itu lho yang pernah dinyanyiin sama Gigi. Udah ingat belum? Kalau belum, lihat lirik di bawah ini ya, semoga tabirnya terbuka.. 


Dengan Menyebut Nama Allah
Jalani Hidupmu
Yakinkan Niatmu
Jangan Pernah Ragu

Dengan Menyebut Nama Allah
Bulatkan Tekatmu
Menempuh Nasibmu
Kemanapun Menuju

*Reff :
Serahkanlah Hidup dan Matimu
Serahkan Pada Allah Semata
Serahkan Duka Gembiramu
Agar Damai Senantiasa Hatimu

Dengan Menyebut Nama Allah
Bulatkan Tekatmu
Menempuh Nasibmu
Kemanapun Menuju
*Reff
Sekarang udah inget dong ya?
Reff lagu itu berkesan banget buat saya. Kenapa? Karena reff nya menggambarkan kepasrahan manusia ke penciptanya. Hasilnya adalah sebuah kedamaian di hati. Memang ikhlas itu sulit, sampai sekarang pun saya sendiri sangat sulit untuk bisa mengaplikasikan ilmu ikhlas itu. Tapi sesulit apapun harus dicoba, dan tiap manusia punya cara berbeda untuk mengaplikasikan bagaimana mereka memperoleh keikhlasan.
Dari lagu itu saya belajar bahwa jika kita sudah berusaha maksimal kemudian pada akhirnya kita dapat mengikhlaskan dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, maka tak akan ada kecewa yang kita dapat. Karena kita tau bahwa segalanya telah diatur dan apa yang kita terima merupakan yang terbaik bagi diri kita. Satu hal yang perlu kita ingat bersama-sama:

"Apa yang kita anggap baik belum tentu yang terbaik untuk diri kita. Akan tetapi, apa yang menurut Allah baik untuk kita merupakan satu hal yang pasti terbaik untuk kita.."

Jadi, mari sama-sama kita belajar ikhlas. Mari sama-sama kita belajar tawakal. Supaya hati kita senantiasa diliputi oleh kedamaian. Aamiin... Aamiin... Aamiin..

Selasa, 16 November 2010

Tanpa Judul

Aku di sini, ditempat 'lawan' diskusiku tentang negeri.
Kembali berdiskusi tentang negeri kami, semoga kelak semua terjadi.
Berkati kami Tuhan, bimbing langkah kami agar kelak menjadi seseorang yang berguna bagi negeri.

Jumat, 12 November 2010

Posting Untuk Tuhan

Tuhan,
Terima kasih karena Engkau telah menempatkan hamba di sini.
Di tempat dimana selalu ada kesempatan bagi hamba untuk belajar.
Di tempat dimana selalu ada orang-orang yang mengajari hamba tentang cara bersyukur.
Di tempat dimana selalu ada mereka yang membuat beban hamba terasa lebih ringan..

Tuhan,
Hamba benar-benar bersyukur kali ini, semakin bersyukur dan terus bersyukur atas segala nikmat-Mu.
Jika Engkau bertanya alasan hamba maka jawabannya akan sangat panjang karena dalam setiap tarikan napas hamba akan selalu ada jutaan nikmat dari-Mu dan hamba tak dapat sebutkan satu persatu nikmat tersebut.

Tuhan,
Terima kasih karena Engkau telah berikan hamba orangtua yang sangat baik bagi hamba.
Terima kasih karena Engkau telah berikan hamba sahabat yang selalu ada kapanpun.
Terima kasih karena Engkau pertemukan hamba dengan teman-teman yang memiliki hal kesukaan yang sama dengan hamba.

Tuhan, terima kasih juga karena Engkau memberikan 'lawan' bagi hamba untuk berdiskusi mengenai masalah negeri.
Tuhan, terima kasih karena lewat 'lawan' diskusi itu Engkau buat hamba mengerti bahwa politik itu indah.
Tuhan, hamba berdoa untuk diri hamba dan 'lawan' diskusi hamba, semoga kelak kami dapat bekerjasama untuk membangun negeri ini, semoga kelak kami dapat mewujudkan cita-cita kami yaitu membuat Indonesia benar-benar merdeka dan BERSIH!

Tuhan, sekali lagi hamba ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas segalanya.

IPB Go Field 2010 - part 4

maaf ya baru lanjut nulisnya..

...bersambung dari part 3...

Sejak kepindahan saya dari Ds.Prapag Kidul, Kec.Losari, ke Ds.Pasarbatang, Kec. Brebes, banyak hal menyenangkan yang saya rasakan, lakukan dan alami. Selain karena bawaan hati yang lebih bahagia, disini lebih sreg aja sama kerjaannya. Kenapa sreg sama kerjaannya? Karena udah bawaan hati, gak bisa diganggu gugat, hehe.. Lagian lebih tertarik aja sama kerjaan disini, soalnya kerjaannya sesuai sama pembekalan yang didapat waktu pembekalan sebelum Go Field.
Kegiatan utama kami (saya, Meri, Tya, dan Mega) adalah belajar membuat ikan asap. *Kok belajar? Bukannya seharusnya memberi masukan ya?* Nah itulah kurangnya program Go Field, mahasiswa diterjunkan ke bidang yang bukan menjadi kompetensinya. Memang sebagai mahasiswa sebenarnya harus siap diterjunkan di bidang manapun. Tapi tanpa bekal yang cukup ya apa yang bisa kami beri ke masyarakat? Karena kami berempat memiliki latar belakang ekonomi, pada akhirnya memang selama Go Field  kami lebih tepat disebut magang di sana. Seharusnya memberi pelajaran bagi masyarakat, justru kami yang diberi pelajaran oleh masyarakat. Kursus kilat membuat ikan asap oleh produsennya langsung! Selain buat ikan asap, kami juga belajar buat bolu kukus, buat ikan pindang, dan masih banyak lagi.
Tulis apa lagi ya???
Kritik dan saran aja mungkin ya buat panitia, Go Field itu acaranya sangat bagus banget (buktinya dipuji sama Pak Rektor), cuma sayang perencanaanya agak kurang matang. Sejak awal juga info yang didapat peserta itu sangat-sangat simpang siur alias gak pasti. Bahkan keberangkatan tim pun sampai diundur,, padahal udah packing, dll.
Maaf ya kalo postingan yang ini aneh, udah banyak yang kebuang dari ingatan. hehe..
Oke, sekian aja posting tentang IPB GO FIELD 2010..

Minggu, 08 Agustus 2010

IPB Go Field 2010 - part 3

...bersambung dari part 2...

Yak mobil kembali melaju, kali ini tujuannya adalah kantor Kecamatan Losari. Di dalam mobil itu cuma ada tiga orang, saya, Mega dan Pak Sus (penanggungjawab program pengolahan ikan). Sekian puluh menit kemudian, mobil belok kanan dan sampailah kami di kantor Kecamatan Losari. Pak Camatnya waktu itu gak ada, yang ada Sekretaris Camat (Sekcam) kalau gak salah. Ditanya ini itu, ini itu, banyak sekali *OST Doraemon :p* termasuk surat pengantar dari Bappeda. Obrolan terus berlanjut antar Pak Sus dan pihak kecamatan, sementara saya dan Mega duduk manis mendengarkan. Saya sih sedikit-sedikit ngerti karena bahasa Brebes itu sedikit-sedikit ada yang saya tau, kalau Mega dunno ya, kan dia bukan orang  Jawa *kayaknya sih dia gak ngerti*.
Pak Sus bilang gini (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca tidak bingung), "Suratnya sudah dikirim minggu lalu."
Sekcamnya jawab, "Tapi Kami belum terima surat pemberitahuannya, Pak."
Pak Sus jawab lagi, "Tapi Kami sudah kirim minggu lalu, rencananya adik-adik ini akan ditempatkan di desa Prapag Lor untuk belajar tentang produksi terasi."
Ibu Sekcamnya masih keukeuh bilang, "Iya, tapi Kami belum terima surat pemberitahuannya. Jadi Kami tidak ada persiapan sama sekali dan pihak desa tujuan juga belum kami infokan mengenai kedatangan adik-adik dari IPB ini."
Pak Sus lalu bilang begini, "Berarti ada keterlambatan info, begini jadinya kalau surat pemberitahuan dikirim via pos. Seharusnya pakai kurir saja biar lebih cepat sampainya."
Lalu mereka pun tertawa, sementara saya dan Mega masih saja duduk manis dan terdiam *krik, krik, krik... tersenyum karena terpaksa*
Obrolan antara Pak Sus dan Ibu Sekcam itu terus berlanjut. Ternyata lurah di desa tempat kami tinggal itu mau nikah, jadi dia PP Losari-Cirebon tiap hari. Ha?? Terus kami tinggal dimana?? Kan harusnya kami tinggal di rumah pak lurah yang katanya megah kayak rumah artis itu. Pak Sus sama Ibu Sekcamnya masih aja ngobrol, kali ini malah cenderung ngegosip. Soal apa? Rahasia, pokoknya untuk bapak/ibu pegawai, tolong jangan ngegosipin teman sendiri di kantor sendiri biarpun sama orang dari instansi berbeda karena itu sungguh terlalu *Rhoma Irama mode: ON.*
Yak, akhirnya selesai juga ngobrol-ngobrolnya, penyuluh lapang yang ditunggu juga udah datang, mobil pun melaju lagi. Di jalan yang saya sama Mega cari bukan warung makan, tapi warnet. Kenapa warnet? Karena tanggal 3-6 Agustus nanti kami harus isi KRS, dan untuk itulah kami butuh warnet. Alhamdulillah ketemu juga warnetnya, gak jauh dari kantor kecamatan. Ok, mobil pun terus melaju. Sesekali Pak Sus ngajak ngobrol soal apapun, sementara Mega tidur, sepertinya dia capek. Pak Sus kasih info bahwa sarana transportasi di sini terbatas, angkot jarang, yang banyak itu justru delman. Jalanan di sini rusak parah, lubang dan genangan air dimana-mana, Pak Sus bilang ini efek pasang air laut yang tingginya bisa sampai setengah ban motor. Finally sampai juga di rumah Lurah Prapag Kidul. Kok Prapag Kidul? Bukannya Prapag Lor? Ini adalah efek dari rencana pernikahan Pak Lurah Prapag Lor, makanya kami dialihin di sini. Rumahnya mentereng banget! Beda sama rumah-rumah di sekitarnya yang terkesan sederhana dan biasa saja. Setelah ngobrol panjang lebar kami akhirnya boleh tinggal di sini. Eh, ternyata lurah Prapag Lor juga ada di sini, masih muda lagi. Saya dan Mega dikasih tau dimana kamar kami sama bu lurahnya. *masih muda lho, bidan pula.* Ok, barang-barang udah masuk semua dan kami pun disuruh istirahat. Saya sih sempatin diri dulu untuk telepon sama SMS teman-teman saya yang lain, sekedar kasih kabar sih. Tapi kok sinyalnya naik turun ya? Sering blank pula. Sambil tidur-tiduran saya ngobrol sama Mega, mungkin saking capeknya kami sampai ketiduran, gak mandi, gak makan malam dan baru sholat Isya besok paginya.

Tanggal 6 Juli 2010...
Pas buka hp ada beberapa sms dari teman-teman dan semua endingnya sama "Salam ya buat anaknya Pak Kades," Emang sih Pak Lurahnya punya anak laki-laki, semata wayang pula, namanya Kiki . Tapi masih kelas 5 SD, masa mau diembat juga? Singkat cerita kami sarapan bareng bu lurahnya *pak lurahnya belum bangun.* Setelah tanya ini tanya itu dan selesai makan, saya sama Mega pergi ke pasar untuk beli sesuatu. Nunggu di warung samping rumah *warung punya pak lurah juga*, tapi angkot tak kunjung tiba. Hampir setengah jam nunggu akhirnya angkotnya datang juga, beda sama di Bogor dimana angkot yang nungguin kita. Tadinya mau ke pasar yang gak terlalu jauh, tapi akhirnya ke pasar yang dekat kecamatan aja sekalian.
Setelah Mega dapat kebutuhannya (yang sangat penting dan darurat) dan saya dapat nomor sementara untuk dipakai selama di sini, kami jalan-jalan lagi. Dan, di sini ada mall lho saudara-saudara sekalian. Namanya Plaza Dedy Jaya, bukan mall besar sih, mirip Al-Amin tengah lah kalau di kampus saya. *buat anak IPB Darmaga pasti tau deh Al-Amin tengah (Plaza Jamahiriyah) kayak apa.* Biarpun gak besar tapi isinya lengkap banget (mulai dari sembako, ATK, sepatu, sampai koper), model bajunya juga lumayan bagus dan update, yang terpenting harganya SANGAT TERJANGKAU OLEH MAHASISWA!! Niat cuma liat-liat, eh pulang-pulang malah bawa belanjaan banyak *gini nih cewek kalau lihat barang bagus dengan harga murah*. Gawat deh di sini lama-lama kalau gak bisa nahan diri, bawaannya pengen belanja sepuasnya alias ngehambur-hamburin uang. Akhirnya kami pulang, tadinya pengen naik angkot tapi saya pengen naik delman karena jarang banget saya naik delman *dasar anak kota norak!* Untuk sampai di tempat delman, harus naik becak dulu sebentar. Ok, sampailah di pangkalan delman. Kirain tuh ya sistemnya sama kayak kita naik becak, jadi satu delman untuk kita doang, eh ternyata datu delman rame-rame. Waktu itu bareng sama ibu-ibu yang pulang dari pasar, plus anak-anak mereka beserta mainannya. Eh, ketemu lagi sama ibu-ibu yang sempat kami tanyain di angkot pas mau ke pasar tadi. Entah saya yang gendut atau memang delmannya yang sempit, paha kanan saya sampai kejepit. Satu per satu penumpang di delman itu turun dan delman itu jadi lega. Ongkos delmannya tiga ribu aja, padahal jauh banget lho jarak tempuhnya. Yang saya perhatikan selama di jalan, Mega tampak was-was mukanya. Setelah ditanya-tanya, rupanya dia takut kakinya kena kotoran kuda. Memang sih kondisi saat itu bikin kaki kami gak bisa ada di atas delman dua-duanya. Jadi otomatis satu kaki kami harus tergantung di luar delman. Alhamdulillah kami sampai rumah dengan selamat tanpa kena kotoran kuda sedikitpun.
Sampai di rumah ternyata pak lurahnya udah bangun dan beliau ajak kami ngobrol sebentar. Rupanya sedang tidak ada produksi terasi karena bahan bakunya sedang tidak ada. Menurut beliau, angin laut sedang tidak bersahabat jadi udang rebon (bahan baku utama pembuat terasi) sedang sulit didapat oleh nelayan atau istilahnya sedang paceklik udang rebon. Jadilah kami beralih ke produksi rajungan atas saran beliau. Setelah  ngobrol lagi sama bawahan pak lurah yang dikasih tugas untuk kasih penjelasan soal keadaan di sini, kami mandi, bersih-bersih, *intinya mah siap-siap* berangkat deh ke tempat produksi rajungan.
Di tempat produksi rajungan, yang ternyata adalah usaha keluarga milik keluarganya pak lurah, kami lihat-lihat, tanya-tanya  sama pekerja dan penanggungjawabnya, juga tak lupa (lagi-lagi) foto-foto sama rajungannya.

Mega with rajungan

me with rajungan
Pertama kali masuk ke tempat pengolahannya udah enek duluan, karena jujur saya gak terlalu tahan bau daging atau seafood mentah, gak tau deh kenapa dari kecil udah begitu soalnya. Tapi Alhamdulillah di sini hidung saya cepet banget adaptasinya, gak sampai sepuluh menit saya udah bisa 'menikmati' aroma rajungan di luar itu. Emang sih rajungannya udah di rebus dulu, tapi tetep aja gak suka baunya. Saya suka seafood setelah seafood itu benar-benar matang dan siap untuk dilahap. *gak mau kotor banget sih gue!!*
Pas tanya-tanya di tempat produksi ternyata gak ada satu bagianpun dari rajungan yang terbuang. Rajungan cuma terdiri dari cangkang dan daging. Dagingnya diambil dari bagian dalam cangkangnya terus di distribusiin lagi ke pihak berikutnya. Alurnya kira-kira begini

alur unit pengolahan rajungan
Nelayan melaut dan dapat rajungan-rajungan itu dalam keadaan hidup, nah karena rajungan itu gampang bau dalam keadaan yang tidak bernyawa alias mati, jadi sama nelayan setelah ditangkap rajungan itu langsung di rebus. Setelah kembali ke darat, rajungan itu langsung disetor ke pengumpul, tempat yang saya datangi ini adalah pengumpulnya. Waktu saya datang di luar ada drum-drum besar yang berisi rajungan dan es, es ini yang membuat rajungan lebih awet. Di sini rajungan-rajungan itu dieksekusi bukan bermaksud untuk lebay, tapi memang begitu. Di sini daging-daging rajungan itu dikeluarkan dari cangkangnya dengan cara memukul cangkang dengan benda keras yang terbuat dari besi, yang saya lihat bentuknya seperti gagang sendok. Cukup  dua kali ketuk tuk..tuk.. maka daging sudah dapat dikeluarkan dari cangkangnya yang keras. Daging-daging rajungan ini dikelompokkan berdasarkan bagian tubuhnya, yang paling mahal kalau tidah salah bagian capitnya. Butuh orang yang berpengalaman untuk mengeluarkan daging rajungan ini, sebab jika cacat maka harganya bisa sangat jatuh. Dari ratusan ribu bisa jadi puluhan ribu saja harganya, Ada juga bagian yang diambil dari cangkang bagian bawah si rajungan, bagian tubuh ini nantinya disusun sampai bentuknya seperti bunga *makanya disebut bagian flower*. Proses pengolahan ini sebenarnya diikat dengan standar yang sangat ketat, pekerjanya harus steril dan lingkungan kerjanya juga harus rapih. Berikut beberapa standar yang harus diterapkan di usaha pengolahan rajungan menurut pihak pengolah yang waktu itu kami tanya-tanya:
  1. Pekerja harus steril, gak boleh pakai lotion gak boleh pakai parfum.
  2. Harus pakai penutup kepala (shower cap), sarung tangan dan sepatu boot.
  3. Sebelum masuk ke dalam ruangan harus melewati chlorine dulu sebagai disinfektan.
  4. Wajib cuci tangan setelah melakukan apapun.
  5. Kehigienisan adalah hal yang utama. 
  6. Ventilasi harus diperhatikan.
Tapi apa yang saya lihat? Kenyataannya tidak seperti itu. Memang sih poin keenam diperhatikan,  ada ventilasi berupa jendela kecil dan air blower, AC juga ada. Tapi saya meragukan poin pertama sampai kelima, kecuali poin ketiga. Karena di depan pintu masuk ada lubang berisi genangan air yang ternyata adalah chlorine. *di lubang inilah saya gak sengaja bikin kaki kiri saya basah*  Coba lihat beberapa foto di bawah ini.
mas-mas di foto ini memang pakai boot tapi ibu-ibu di sini?
mereka memang pakai alas kaki, tapi bukan boot!
apa ada yang bisa jamin mereka benar-benar steril??
Kayaknya bapak yang sedang kami tanya-tanya tau kalau saya sedang agak heran dengan apa yang saya lihat. Karena memang bertolak belakang dengan apa yang saya dengar dari beliau. Lalu bapak itu pun bilang begini, "Biasanya seperti itu kalau mau ada pengecekan dari mitra. Sekeliling lokasi, semuanya harus bersih." WHAT???!!! Ya ampun, berarti kalau gak ada pengecekan patut dipertanyakan kehigienisannya. Belum lagi kejadian mencengangkan yang saya lihat. Apakah itu?? Seorang pekerja kedapatan mengambil kembali daging rajungan yang jatuh dan memasukkannya ke dalam wadah. Pelakunya adalah salah satu orang di dalam foto di bawah ini. Kalau saya yang jadi atasan dan tau hal ini mungkin udah saya suruh dia keluar , karena buat saya gak ada toleransi untuk masalah kehigienisan. Efeknya banyak ya, bisa menurunkan harga dan bikin customer gak percaya lagi sama kita. Kalau customer mundur dan gak lagi kerjasama sama kita karena masalah kehigienisan yang terlanggar kan dia juga yang rugi. Masih mending honor dipotong, nah kalau perusahaan bangkrut dan semua karyawan di PHK siapa yang rugi hayo? Dia juga kan??!!

ayo tebak yang mana pelakunya??
Kembali lagi ke alur unit pengolahan rajungan, dari pengumpul daging-daging rajungan yang sudah dimasukkan dalam kemasan kemudian dimasukkan lagi ke dalam drum yang sudah diberi es. Dari sini rajungan-rajungan ini dikirim ke mini plan yang berlokasi di rumah lurah Prapag Kidul atau rumah yang sedang kami tempati. Di mini plan ini daging-daging rajungan ini hanya ditimbang, kemudian oleh plan atau perusahaan besar diangkut ke tempat pengolahan selanjutnya. Oleh plan daging rajungan diolah menjadi sarden dan siap dipasarkan ke luar negeri. Kok ke luar negeri? Karena harganya yang sangat mahal (bisa sampai tiga ratus ribu rupiah) makanya diekspor aja deh *orang Indonesia dinilai gak mampu beli*
Selesai dari pengolahan rajungan kami diantar ke pengolahan kulit rajungan. Baunya gak kalah dahsyat sama tempat sebelumnya, malah lebih bau di sini. Gimana gak bau, orang bahan-bahan di sini nggak banget! Di sini ada kulit rajungan, udang busuk dan ikan busuk. Tiga bahan tadi dijemur sampai kering banget, terus digiling bareng-bareng. Hasil gilingannya juga bervariasi, tergantung permintaan dari pemesan. Hasil gilingan ini kemudian dijadiin pakan untuk ternak, umumnya sih untuk bebek. Saya dan Mega gak mau lama-lama di sini, gak tahan sama baunya dan cuaca panas di luar sana.
Akhirnya sampai rumah juga, langsung ngurus jemuran dan beres-beres kamar yang terbengkalai. Setelah beres semuanya kami istirahat, Mega tidur nyenyak sementara saya susah tidur. Yang saya pikirkan saat itu adalah saya tidak bisa kerja di lingkungan seperti itu. Bukan masalah baunya, tapi karena bagi saya pekerjaan itu sangat monoton! Sesi curhatpun dimulai lewat SMS, saya bercerita tentang apa yang saya rasa ke beberapa teman saya yang ikut Go Field juga. Akhirnya kesimpulan saya dapat, teman-teman saya menyarankan saya untuk cerita tentang kondisi lapangan kepada Bu Eny, staff LPPM yang selama ini mengurus segala kepentingan mengenai Go Field.  Saya akhirnya memberanikan diri untuk curhat dengan Bu Eny, tentu saja lewat SMS. Bu Eny menyarankan saya untuk lapor ke penanggungjawab dari dinas dan jika memungkinkan kami disarankan untuk pindah. Saya akhirnya curhat dengan Pak Sus, lagi-lagi lewat SMS. Dan oleh beliau ditanggapi besok paginya. Sudah malam, saatnya tidur..

Tanggal 7 Juli 2010..
Pak Sus membalas SMS saya dan beliau bilang laporan saya sudah disampaikan ke Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Gak lama kemudian datang Pak Encang penyuluh lapang di daerah Losari. Beliau datang untuk klarifikasi mengenai laporan saya dan saya juga memanfaatkan hal itu untuk menyampaikan keinginan pindah saya. Dari kata-kata beliau memang ada kekecewaan atas keputusan saya. Beberapa kali beliau mengeluarkan argumen supaya saya memikirkan keputusan saya, Mega juga demikian. Tapi saya tetap keukeuh pada keputusan saya dan tetap meminta untuk tetap dipindahkan. Saat ditanya ke Mega, untungnya dia ikut apapun keputusan saya. *sebenarnya juga gak enak sama Mega, tapi jujur saya memang tidak bisa bekerja maksimal jika saya tidak nyaman*
Sekitar jam 10 pagi HP saya bunyi, ada panggilan masuk dari Pak Sus. Waktu itu beliau bilang agak saya dan Mega segera siap-siap karena beliau segera datang untuk menjemput kami dan memindahkan kami ke  Kecamatan Brebes, sementara dua kawan laki-laki saya yang lebih dulu ditempatkan di sana (Burhan dan Zepanya) dipindah ke Malahayu. Tidak sampai satu jam kami sudah siap, semua barang sudah masuk koper dan kami siap berangkat. Tapi sampai jam 12 yang ditunggu tidak juga muncul sampai saya dan Mega akhirnya malah ketiduran di kamar. Sekitar jam dua ada yang mengetuk kamar kami dan saat saya keluar kamar ada Pak Sus dan dua ibu dengan seragam yang sama dengan Pak Sus sudah menunggu di ruang tamu. Setelah basa-basi beberapa menit kami pun berpamitan dan mengangkut barang-barang kami ke mobil dinas yang sudah menunggu di depan rumah Pak Lurah. Mobil yang tanpa AC itu kemudian melaju meninggalkan Kecamatan Losari menuju Kecamatan Brebes. Di jalan saya sama sekali tidak bisa tidur walau mata mengantuk. Udara panas di luar semakin panas dirasa karena seisi mobil yang bergosip ria. Selain itu HP yang sering bergetar selalu bikin saya bangun setiap saya baru saja mulai tidur. Kalau kemarin saya yang curhat ke teman-teman saya, kali ini saya yang jadi tempat curhat teman-teman saya. Ditambah satu SMS dari Tya yang menanyakan apakah kami jadi pindah ke Brebes atau tidak. Sengaja pesan dari Tya itu tidak saya balas.
Kami pun sampai di Kelurahan Pasarbatang. Sampai dan turun di depan Gang Tanjan Jaya dan menjadi perhatian orang sekitar. *mungkin karena saya dan Mega bawa koper kali ya?*  Kami sampai di rumah yang di depannya terdapat halaman bulutangkis, dan di teras rumah itu dua teman saya, Tya dan Meri sudah duduk dengan manis dan tersenyum manis memandang kami, kemudian mereka berdiri dan membantu membawakan barang kami sambil diselingi acara bercanda tentunya.
Setelah acara serah terima *macam jabatan aja* antara pihak DKP dan Pak Syarif selaku pemilik rumah selesai, saya dan Mega masuk ke kamar kami. Setelah itu kami berempat mulai bercanda bersama. Kalau saya boleh jujur, saat itu saya benar-benar merasa bersyukur karena bisa satu rumah dengan teman-teman saya yang sudah lebih dulu ada di sini. Awalnya saya pikir saya akan ditempatkan di Kelurahan Limbangan Wetan menggantikan dua teman laki-laki saya yang pindah ke Malahayu itu. Ternyata saya dipindahkan ke tempat ini, tempat yang pada akhirnya membuat saya merasa ada di tengah keluarga saya sendiri. Alhamdulillah , saya sangat sangat senang saat itu .
Baru saja sampai beberapa saat, kami berempat diajak pemilik rumah untuk jalan-jalan santai ke tempat pembiakan ikan yang tidak terlalu jauh dari rumah. *ini yang saya suka, kegiatan yang tidak monoton* Di tempat pembiakan ikan ini kami bebas bertanya tentang ikan. Dan saya mulai produktif (bekerja dan mencari objek foto), karena suasananya memang membuat saya nyaman.

(ki-ka): Meri yang serius memperhatikan, Tya yang sadar kamera..
Menjelang Maghrib kami pulang ke rumah, dan setelah Isya lanjut foto-foto lagi ...

besar (ki-ka): Tya, Mega, Meri, Saya. kecil (ki-ka): Vina, Habib, Izza
 Well,, itulah akhir dari IPB Go Field 2010 - part 3. Insyaallah masih akan ada lanjutannya.

Sabtu, 07 Agustus 2010

I Love You My Best Friends

Kali ini tidak berhubungan dulu dengan IPB Go Field 2010. Posting kali ini ada karena satu hal yaitu persahabatan. Kenapa tiba-tiba nulis tentang persahabatan? Karena saya dapat buku baru dari sahabat saya, judulnya I Love You Friends.
Sahabat saya itu bukan sahabat pertama yang saya punya, tapi dia satu-satunya sahabat yang paling dekat sama saya sampai sekarang. Dia satu-satunya sahabat yang paling rajin saya hubungi dan menghubungi saya. Kami satu sekolah waktu SMA di Jakarta.  Berencana untuk ngekos dan kuliah bareng di Unpad tapi gak kesampaian karena salah satu dari kami gak lulus SMUP tahun 2007, ikut SPMB juga pilihannya beda semua. Sekarang kami jauh-jauhan,  terpisah oleh Selat Sunda. Sekarang dia kuliah di Palembang, saya di Bogor.
Saya justru lebih dekat dengan sahabat saya dibandingkan dengan kakak-kakak saya. Bisa lebih bebas dan apa adanya kalau sama dia. Kami sama-sama hobi baca, kalau dia ke Jakarta, biasanya kami selalu ke toko buku favorit kami di Matraman. Seperti kemarin, walau terkesan pelarian dan dadakan, tapi kami jalan ke tempat favorit kami lagi. Ini kali kedua dalam minggu ini kami jalan-jalan di toko buku.
Hal yang pasti kami lakukan kalau dia datang ke Jakarta adalah beli buku dan makan. Kalau ada film bagus nonton juga ayo. Saya senang punya sahabat seperti dia, karena dia selalu mau diajak kemanapun, termasuk ke museum. Biarpun kadang mikirnya lama, tapi sahabat saya itu asik banget kalau diajak ngobrol. Kemarin siang contohnya, berawal dari janjian kemudian sindrom jantung akut dan berakhir di logika VS perasaan. Dia anak kedokteran dan punya pengetahuan luas, dan saya percaya itu karena dia rajin membaca.
Punya sahabat seperti dia bikin saya makin semangat untuk punya hobi membaca juga, dan berhasil. Senangnya lagi, dia hapal jenis buku bacaan kesukaan saya yaitu biografi tokoh dan novel-novel yang bertema persahabatan. Sejak minggu lalu dia ada di Jakarta, tapi karena saya sedang Go Field kami baru bisa ketemu hari Senin minggu ini. Kemarin dia belikan saya buku baru yang judulnya sudah saya sebutkan di awal. Biarpun ulang tahun saya masih lama, tapi buku itu adalah hadiah ulang tahun dari dia. Kalau saya boleh meniru gaya bicaranya, maka disini saya akan bilang "Trims.." karena itu adalah cara dia untuk mengucapkan terimakasih.
Hari ini adalah Sabtu terakhirnya di Jakarta, besok malam dia harus kembali ke Palembang untuk kuliah lagi esoknya. Sahabat, ada kamu terasa biasa saja, namun begitu tiada, ada sesuatu yang tidak terkumpul sepenuhnya. Paling tidak itu yang selalu saya rasa tiap sahabat saya itu ada di Palembang sementara saya sendiri di Bogor. Jauh memang, sedih juga iya, tapi tidak apa. Kita jauh bukan karena kita musuh, kita jauh karena hidup sebagai mahasiswa memang harus kita tempuh.
Buat sahabat saya (semoga dia baca): Kapan-kapan kalau ke Jakarta lagi tolong diagendakan untuk ke Ragunan! Udah beberapa kali ke Jakarta tapi belum jadi ke Ragunan barengnya. Selamat kembali berjuang di Palembang, semoga skripsi dan blok 20, 21 dan 22 nya lancar. terus cepat koas dan jadi dokter deh . Jaga kesehatan karena seperti yang kamu bilang kemarin, di blok 20 gak ada alasan gak masuk kecuali MATI! Harus selalu rajin belajar dan ibadah di sana. I Love You My Best Friends*.

*Kukud
PS: maaf ya Kud, tadi Bibing sempet galak pas ditelepon.

Kamis, 05 Agustus 2010

IPB Go Field 2010 - part 2

Ok, lanjut posting tentang Go Field. Postingan pertama isinya tentang pembekalan-pembekalan, intinya sih persiapan dari pihak kampus.
Setelah pembekalan hari kedua selesai ada pelepasan mahasiswa yang mau KKP (Kuliah Kerja Profesi), yang Go Field juga dilepas di hari yang sama, tanggal 24 Juni 2010. Hari itu juga kami dapat info dari Bu Eny (CP Go Field dari LPPM IPB) kalau keberangkatan ke Brebes tanggal 31 Juni. Ini dia foto setelah pelepasan KKN dan Go Field 2010 bareng teman-teman dari Ilmu Ekonomi.
Taken From Nindya's Phone
Setelah ber-'grabak-grubuk, gradak-gruduk' di kosan dan di rumah untuk siapin barang2 yang mau dibawa, akhinya persiapan selesai hanya dalam waktu dua hari. Semuanya masuk ke dalam satu koper ukuran medium yang saya gondol dari rumah. Tanggal 29 Juni saya udah stay di kosan, udah benar-benar siap ber-Go Field ria.

Keesokan harinya...

Pagi-pagi udah sumringah banget karena hari ini bakal berangkat 'KKP Boongan'. Walau belum tau pasti jam berapa bakal berangkatnya, tapi udah seneng aja. Desas-desusnya sih hari ini jam 1 siang kami bakal berangkat. Tiba-tiba sekitar jam 11 siang HP saya bunyi, ada SMS masuk dari Bu Eny. Isinya sungguh sangat mengecewakan, bikin sedih, bikin kesel, bikin bete sendiri.. Intinya gini:
Keberangkatan kami ke Brebes diundur jadi tanggal 4 Juli

Ya ampun, udah jam-jam terakhir baru kasih tau. Ckckck!! As PJ di Kab. Brebes, pesan dari bu Eny itu pun saya forward ke temen2 yang lain. Well, akhirnya saya memang berangkat, tapi berangkat ke Jakarta, alias pulang ke rumah. Tanggal 2 Juli-nya balik lagi ke kampus buat cari kepastian jam keberangkatan dan akomodasi *yang terakhir adalah yang paling dinanti :p*. Hasilnya: tanggal 4 Juli kumpul di BNI jam 9 malam.

Tanggal 4 Juli 2010...
Karena tau berangkatnya malam jadi berangkat ke Bogor agak sorean dari rumah. *dipercepat ceritanya* Jam sembilan kurang sedikit berangkat ke BNI diantar Pak Asep, ojek langganan saya *kopernya berat banget!! males ribetnya kalau naik angkot.* Kirain udah pada kumpul, eh ternyata di sana baru ada satu orang yang datang. Ditunggu ditunggu ditunggu, akhirnya jam setengah sepuluh-an baru pada kumpul semua. Yak, kami ber-12 (saya, Meri, Tya, Mega, Rina, May, Burhan, Zepanya, Andri, Dendi ,Ojan, Fendri) sudah lengkap, tapi mana Bu Eny? Mana juga kendaraan yang bakal bawa kami ke Brebes? Intinya, masih harus menunggu. Gak lama yang ditunggu-tunggu datang. Tiga mobil dengan plat F, disusul kemudian Bu Eny.
Agenda berikutnya adalah bagi-bagi uang!!! *sepertinya ini yang paling ditunggu.. Dari kampus dapat uang program, uang akomodasi, uang transport lokal. Tanda tangan berkas ini-itu lalu uang diterima . Ditambah uang dari ortu, Insyaallah cukup untuk hidup di kota orang selama sebulan.
Agenda berikutnya adalah foto bersama...

pria paling kiri bukanlah Go Field Rangers Brebes, dia Go Field Rangers Bogor










Janji tinggal janji.. Janjian jam 9 ternyata berangkat jam setengah 11 malam. Tapi Alhamdulillah, akhirnya kami berangkat.. Goodbye Bogor.. Bismillah..
Eeeeeehhhh, kok mobil yang saya tumpangi sama teman2 sempit ya? *perasaan berat saya turun deh* Rupanya mobil ini overload alias kelebihan muatan.. Harusnya tiap mobil diisi 4 mahasiswa + 1 supir, tapi mobil kami diisi 4 mahasiswa + 1 supir + 1 staff LPPM + 1 dosen. Jadilah yang saya dan dua teman saya, Tya dan Meri duduk bertiga di belakang. Sempit sih gak terlalu, tapi susah bergerak iya, haha!!

Di Jalan..
Diawali dengan obrolan ringan dengan bapak2 di dalam mobil, lalu dengan kawan-kawan, tetap SMS-an dengan teman dan keluarga, tetap online sampai akhirnya saya dan Tya menyadari bahwa salah satu dari tiga personil yang duduk di belakang *hayo, tebak siapa?* sudah tertidur dengan nyenyak, padahal belum ada setengah jam kami berangkat. Jadilah dia yang tertidur itu bahan obrolan kami berdua, hehe.
Sampai di daerah bekasi Tya ternyata tidur, teman saya Zepanya yang duduk di depan Tya juga tidur, mau ngobrol sama bapak-bapak malas. Padahal waktu itu saya udah ngantuk, tapi gak bisa tidur. Saya pun melarikan diri ke dunia maya. Tapi lama-lama mati gaya dan jenuh sendiri karena online cuma lewat HP. Saya yang duduk manis di kursi paling belakang, cuma bisa lihat lurus ke depan, yang kelihatan juga cuma lampu mobil di depan, eh lama-lama saya ketiduran. Bangun-bangun udah di daerah Subang, *kalau gak salah* itu pun bangun karena mobilnya berguncang, entah karena jalannya rusak atau sering rem mendadak karena macet. Waktu itu Tya bangun, sementara kawan saya yang satu lagi itu dan Zepanya masih tidur dengan nyenyaknya. Sepanjang jalan beberapa kali seperti itu, tidur dan kebangun karena mobil yang tidak melaju dengan mulus. Seringnya sih karena jalan yang rusak *gimana nih Departemen Pekenjaan Umum? sebentar lagi arus mudik kok jalannya masih banyak yang berlubang? Ini jalan utama Pantura lho!!*
Senin, 5 Juli 2010 pukul 03.35, tiba-tiba mobilnya belok kiri, wah dimana ini? Kok gelap? Rupanya kami di Rest Area KM 22.6 Tol Kanci, Cirebon. Yak, semuanya silakan turun, yang mau ke toilet sok mangga. Kalau saya sih makan karena lapar, hehe. Gak lama kemudian semua disuruh masuk mobil lagi dan mobil pun kembali melaju menuju Kab. Brebes yang katanya sudah dekat. Dan saya pun kembali tidur..
Sekali lagi saya bangun karena jalan yang rusak, kali ini semuanya bangun. Dan beruntung waktu kami bangun udah masuk daerah Brebes, walau belum sampai tujuan. Beberapa kali berhenti untuk tanya, karena  supirnya gak tau jalan ke tujuan sementara kami, yaitu Masjid Agung Brebes.
Sekitar jam setengah enam pagi mobil belok kanan, ke arah lapangan. Rupanya lapangan itu adalah Alun-Alun Kabupaten Brebes. Dan masjidnya pun tepat di arah barat alun-alun, semua turun.. Sholat Subuh dulu.. Selesai sholat, waktunya sarapan. Sebenarnya belum pengen makan, soalnya masih pagi banget. Tapi karena disuruh terpaksa makan deh. *boong banget, padahal laper juga*

makan pagi pertama di Brebes
Sambil makan sambil perhatiin keadaan sekitar, masjidnya bagus juga, tapi kok banyak orang gila ya di sekitar alun-alun? Dan yang bikin terkejut adalah makanannya Mega diambil orang gila, padahal baru banget ditinggalnya. Abis itu May dengan sukarela memberi makanannya ke orang gila itu *hambar ya May lontongnya?*

Masjid Agung Brebes
Ternyata kami masih harus nunggu di sini lebih lama lagi, karena diterima di Bappeda Brebesnya masih jam sembilan pagi. Bingung mau ngapain, akhirnya izin ke Pak Dadang, dosen pendamping, untuk jalan-jalan keliling alun-alun. Dan, WOW!!! Ternyata orang gila di sini cukup banyak kalau dibandingin sama luas alun-alun yang gak begitu besar. MORE THAN 3 PERSONS!!! Bosan jalan-jalan akhirnya balik lagi ke masjid untuk istirahat dan foto-foto lagi, hehe.
Yak, sudah jam setengah sembilan. Semuanya masuk mobil, kita lanjut ke kantor Bappeda Brebes. Lagi-lagi sebentar-sebentar mobil berhenti dan pak supirnya turun untuk tanya alamat. Muter sana, muter sini, tiga mobil kami pun nyasar lagi, nyasar lagi.. Patokan yang paling saya ingat adalah Stadion Karangbrei *itu yang saya dengar*, tapi pas lihat stadionnya tulisannya ternyata STADION KARANGBIRAHI. Semua orang di mobil saya ketawa karena 'takjub' ngeliatnya. *nama yang aneh!!* Hore,,akhirnya sampai di kantor Bappeda Brebes, Alhamdulillah..
Di sini lagi-lagi ada pembekalan. Tapi gak apa-apa, setidaknya kami dikasih kotak makanan . Dan di tempat ini kami ber-12 harus dipisah. Berikut pembagiannya berdasarkan kecamatan tugas kami :
  1. Kec. Salem : Ojan, Fendri.
  2. Kec. Paguyangan : May, Rina.
  3. Kec. Banjarharjo : Andri, Dendy.
  4. Kec. Losari : Sari, Mega. 
  5. Kec. Brebes : Meri, Tya, Burhan, Zepanya.
Setelah ber-ribet-ribet ria dengan transportasi *saking banyaknya mobil* akhirnya kami ber-12 benar-benar berpisah ke kecamatan masing-masing. Kecuali teman-teman di kecamatan nomor satu dan dua, mereka sementara ditampung dulu di BBI Desa Malahayu, Kec. Banjarharjo. Kenapa? Menurut pihak Bappeda, saat mereka sampai di Desa Malahayu hari sudah sore dan terkendala transportasi juga. Ikuti saja lah, toh Bappeda dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kab. Brebes udah  ngatur semuanya..

I think that's all for IPB Go Field 2010 - part 2..